Laman

Senin, 26 September 2011

PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI

1. Pendahulun
PAUD (Pendidikan anak usia dini) adalah pendidikan prasekolah yaitu endidikan di mana anak belum memasuki pendidikan formal. PAUD diterapkan pada anak usia hingga 6 tahun, dimana rentang usia dini merupakan saat ynag tepat dalam mengembangkan potensi dan kecerdasan anak. Pengembangan potensi anak secara terarah pada rentang usia tersebut akan berdampak pada kehidupan masa depannya. Sebaliknya, pengembangan potensi yang asal-asalan akan berakibat  potensi anak yang sebenarnya.
Pendidikan anak dini usia berkaitan dengan asas pendidikan partisipatif, di mana pendidikan diselenggarakan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan, yang sitemik, terbuka dan multi makna. Paradigma baru pendidikan anak dini usia lebih merupakan sutau proses pembudayaan dan pemberdayaan berdasarkan prinsip memberi ketauladanan, dorongan dan tentunya dilakukan dengan prinsip otonomi, tranparansi dan akuntabilitas publik.
Pendidikan Anak Usia Dini dalam konsep pembinaan dan pengembangan anak dihubungkan pembentukan karakter manusia seutuhnya. PAUD sangat esensial bagi kelangsungan bangsa, penting dan perlu menjadi perhatian serius dari pemerintah. PAUD sebagai strategi pembangunan sumber daya manusia harus dipandang sebagai titik sentral mengingat pembentukan karakter bangsa dan kehandalan sumber daya manusia ditentukan bagaimana penanaman sejak anak usia dini, pentingnya pendidikan pada masa ini sehingga sering disebut dengan masa usia emas (the golden ages).

2. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Manusia terlibat dalam system pengajaran terdiri dari siswa, guru, dan tenaga lainnya, misalnya laboratorium. Material, meliputi buku-buku, papan tulis, dan kapur, fotografi, slide dan film, audio dan video tape. Fasilitas dan perlengkapan, terdiri dari ruangan kelas, perlengkapan audio visual,juga komputer. Prosedur, meliputi jadwal dan metode penyampian informasi, praktik, belajar, ujian dan sebagainya. Sudjana (1987) Pembelajaran adalah penyiapan suatu kondisi agar terjadinya Belajar. Mariana (2005) Pembelajaran adalah upaya logis yang didasarkan pada kebutuhan-kebutuhan belajar anak. Pembelajaran sangat tergantung kepada pemahaman guru tentang hakikat anak sebagai peserta atau sasaran belajar.
Rumusan tersebut tidak terbatas dalam ruang saja, akan tetapi juga system pembelajaran. System pembelajaran dapat dilaksanakan dengan cara membaca buku, belajar dikelas atau disekolah, karena diwarnai oleh organisasi dan interaksi antara berbagai komponen yang saling berkaitan, untuk membelajarkan peserta didik. Hartati (2005), pembelajaran anak usia dini merupakan proses interaksi antara anak, orang tua, atau orang dewasa lainnya dalam suatu lingkungan untuk mencapai tugas perkembangan. Interaksi yang dibangun tersebut merupakan factor yang mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Hal ini disebabkan interaksi tersebut mencerminkan suatu hubungan di antara anak akan memperoleh pengalaman yang bermaka, sehingga proses belajar dapat berlangsung dengan lancer. Menurut Vigotsky berpendapat bahan pengalaman interaksi social merupakan hal yang penting bagi perkembangan proses berpikir anak. Aktivitas mental yang tinggi pada anak dapat terbentuk melalui interaksi dengan orang lain. Greeberg (1994) melukiskan bahwapembelajaran dapat efektif jika anak dapat belajar melalui bekerja, bermain dan hidup bersama dengan lingkungannya.
Pada hakikatnya anak belajar sambil bermain, oleh karena itu pembelajaran pada pada anak usia dini pada dasarnya adalah bermain. Sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang bersifat aktif dalam melakukan berbagai ekplorasi terhadap lingkungannya, maka aktivitas bermain merupakan bagian dari proses pembelajaran.
Pembelajaran diarahkan pada pengembangan dan penyempurnaan potensi kemampuan yang dimiliki seperti kemampuan berbahasa , sosio-emosional. Motorik, dan intelektual. Untuk itu pembelajaran pada usia dini harus dirancang agar anak merasa tidak terbebani dalam mencapai tugas perkembangnya. Agar suasana belajar tidak memberikan beban dan membosankan anak, suasana belajar tidak memberikan bebandan membosankan anak, suasana belajar perlu dibuat secara alami, hangat dan menyenangkan. Aktivitas bermain (playul activity) yang memberi kesempatan kepada anak  untuk berinteraksi dengan teman dan lingkungannya merupakan hal yang diutamakan. Selain itu, karena anak merupakan individu yang unik dan sangat variatif, maka unsure variasi individu dan minat anak juga perlu diperhatikan. 

3. Hakikat dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran.
Dalam kegiatan pembelajaran, anak adalah sebagai subjek dan sebagai objek dan kegiatan pengajaran. Karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai jika anak didik berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan anak didik di sini tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik anak yang aktif tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya anak didik tidak belajar, karena anak didik tidak merasakan perubahan di dalam dirinya. Padahal belajar pada hakikatnya adalah ‘peruhahan” yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar. Walaupun pada kenyataannya tidak semua perubahan termasuk kategori belajar. Misalnya, perubahan fisik, mabuk, gila dan sebagainya.
Proses pembelajaran yang akan dilakukan harus memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran sebagai berikut :
1.      Berangkat dari yang dimiliki anak. Setiap anak membawa segala pengetahuan yang telah dimilikinya terhadap pengalaman-pengalaman barunya. Jika suatu pengalaman belajar tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk menciptakan pengetahuan baru, maka pembelajaran itu akan membosankan. Pengalaman belajar hendaknya mengandung sebahagian unsur yang sudah dikenal oleh anak dan sebahagian lainnya merupakan pengalaman yang baru.
2.      Belajar harus menantang pemahaman anak. Untuk memastikan terjadinya pengembangan pada anak, aktivitas pembelajaran yang dirancang harus menantang anak untuk mengembangkan pemahaman sesuai dengan apa yang dialaminya. Bila anak mampu menyelesaikan tantangan pertama, maka anak diberikan tantangan berikutnya yang lebih sulit dari pertama. Jika anak tidak dirangsang dengan tantangan berikutnya, maka selain anak bosan akan tetapi pemahaman anak tidak akan berkembang dengan optimal.
3.      Belajar dilakukan sambil bermain. Belajar melalui bermain dapat memberi kesempatan bagi anak  untuk bereksplorasi, menemukan, mengekpresikan perasaan, berkreasi, dan belajar secara menyenangkan. Bermain juga dapat membantu anak mengenal diri sendiri, dengan siapa ia hidup, dan dilingkungan mana ia hidup. Bermain merupakan sarana belajar, muncul dari dalam diri anak, bebas dan terbebas dari aturan yang mengikat, aktivitas nyata atau sesungguhnya, berfokus pada proses daripada hasil, harus didominasi oleh pemain, serta melibatkan peran aktif dari pemain.
4.      Menggunakan alam sebagai sarana pembelajaran. Alam merupakan sarana yang tak terbatas bagi anak untuk berekplorasi dan berinteraksi dalam membangun pengetahuannya. Robin Dranath Tagore menggunakan model pembelajarannya hampir 90 % kegiatannya dilakukan dengan berinteraksi dengan alam. Anak diajarkan dapat membangun ikatan emosional di antara teman-temannya, menciptakan kesenangan belajar, menjalin hubungan serta mempengaruhi memori dan ingatan yang cukup lama akan bahan-bahan yang dipelajari.
5.      Belajar dilakukan melalui sensorinya. Anak memperoleh pengetahuan melalui sensori atau inderawinya yaitu: peraba, pencium, pendengar, penglihat dan perasa. Setiap sensori anak akan merespon stimulan atau rangsangan yang diterima. Oleh karenanya pembelajaran hendaknya memberikan stimulasi yang dapat merangsang setiap sendori yang dimiliki anak. 
6.      Belajar membekali keterampilan hidup. Belajar harus dapat membekali anak untuk memiliki keterampilan hidup (life skill) sesuai dengan kemampuan anak, dengan demikian anak diajarkan untuk memiliki kemandirian dan rasa tanggungjawab terhadap dirinya. Misalnya mampu memakai sepatu, menyisir rambut, makan dan minum sendiri, dan sebagainya.
7.      Belajar sambil melakukan. Student Avtive learning adalah salah satu bentuk pembelajaran yang diilhami oleh John Dewey (learning by doing) dan diteruskan oleh Killpatrik dengan pengajaran proyek. Pembelajaran proyek sangat memberikan kesempatan pada anak untuk aktif, may bekerja dan secara produktif menemukan berbagai pengetahuan baru.

4. Strategi Pembelajaran PAUD
Dalam teori belajar konstruktivisme, bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seorang individu melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Dalam prakteknya teori ini antara lain terwujud dalam “tahap-tahap perkembangan” dikemukanan oleh Jean Piaget  dengan belajar bermakna “dan “belajar penemuan secara bebas” oleh Jerome Bruner.
Conny (2002) menyatakan bahwa belajar adalah membangun (to construct) pengetahuan itu sendiri, setelah difahami, dicernakan dan merupakan perbuatan dari dalam diri seseorang (from within).
Jean Piaget Piaget penganut faham kongnitifistik, menyatakan bahwa proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yakni (1) asimilasi, adalah proses penyatuan informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak anak, (2) akomodasi, adalah penyusunan struktur kofnitif ke dalam situasi yang baru, dan (3) equalibrasi, adalah penyesuaian antara asimilasi dan akomodasi.  Tanpa proses ini perkembangan kognitif seseorang akan tersendat-sendat dan berjalan tidak teratur (disorganized).
Menurut Piaget proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui anak, yang dalam hal ini dibagi menjadi empat tahapan, yaitu (a) tahap sensori-motor (ketika anak berumur 0-2 tahun), (b) tahap pra-operasional (2 sampai 7 tahun), (c) tahap operasional kongkrit (7-11 tahun), dan (d) tahap operasional formal (11-18 tahun).
Strategi pembelajaran merupakan hal yang perlu diperhatikan guru dalam proses pembelajaran anak usia dini. Paling tidak ada tiga jenis strategi yang berkaitan dengan pembelajaran, yakni :
  1. strategi pengorganisasian pembelajaran,
  2. strategi penyampaian pembelajaran, dan
  3. strategi pengelolaan pembelajaran.
Penyampaian pengajaran menekankan pada media apa yang dipakai untuk menyampaikan pengajaran, kegiatan belajar apa yang dilakukan siswa, dan dalam struktur belajar mengajar yang bagaimana. Strategi pengelolaan menekankan pada penjadwalan penggunaan setiap komponen strategi pengorganisasian dan strategi penyampaian pengajaran, termasuk pula pembuatan catatan tentang kemajuan belajar siswa.
Strategi pembelajaran untuk anak usia dini hendaknya menantang dan menyenangkan, melibatkan unsur bermain, bergerak, bernyanyi, dan belajar. Beberapa strategi yang sering digunakan untuk pembelajaran anak usia dini antara lain :
a.      Cyrcle Time, pada strategi pembelajaran ini kegiatan anak-anak duduk melingkar dan guru berada di tengah lingkaran. Berbagai kegiatan, seperti membaca puisi, bermain peran, bernyanyi, mengaji, atau bercerita, dan sebagainya.
b.      Sistem Kalender, pembelajaran dihubungkan dengan kalender dan waktu. Guru menandai tanggal-tanggal pada kalender yang terkait dengan berbagai kegiatan, seperti Hari Kemerdekaan, Hari Kartini, Hari Pendidikan Nasional, Hari Pahlawan dan Hari Besar Nasional dan Hari Besar Agama seperti Hari Raya Aidil Fitri, Bulan Ramadhan, Hari Natal, Hari Nyepi, Waisyak, dan sebagainya. Selanjutnya guru harus mendesain kegiatan belajar dengan menggunakan tema-tema  sesuai dengan hari tersebut, misalnya Hari Kartini, anak-anak memakai pakaian kebaya, dll.
c.       Small Project, metode ini melatih anak bertanggungjawab untuk mengerjakan proyeknya. Proyek merupakan kegiatan investigasi dan penemuan dari suatu topik yang memiliki nilai penting bagi anak (Katz, 2004). Investigasi ini biasanya dikerjakan dalam kelompok kecil 3-4 orang atau secara individual. Setiap kelompok diberi proyek kecil, misalnya menemukan berbagai jenis daun yang khas di daerahnya dan mengecapnya dengan berbagai warna di sehelai kertas manila. Jadi proyek merupakan kegiatan investigasi dan penemuan, bukan semata-mata untuk menemukan satu jawaban yang benar dari suatu persoalan. Metode ini melatih anak bekerjasama, bertanggungjawab, dan mengembangkan kemampuan sosial. Metode ini memiliki 3 fase. Pada fase Pendahuluan, guru menyampaikan topik dan persoalan. Topik dan persoalan hendaknya menarik dan familier bagi anak. Anak-anak diajak untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang terkait dengan persoalan tersebut. Sebagai contoh pada saat makan kentang goreng, guru mengajukan persoalan bagaimana cara menanam kentang. Anak-anak mencoba menjawab dengan pengetahuan yang telah dimilikinya.
Fase kedua ialah fase Penemuan. Guru menyediakan kentang dan anak-anak secara berkelompok mencoba menanam kentang dengan berbagai cara. Anak-anak memberi air dan mengamati pertumbuhan kentangnya.
d.      Kelompok Besar (Big Team), metode ini menggunakan kelompok besar, yaitu satu kelas penuh untuk membuat sesuatu. Misalnya untuk mendirikan tenda yang besar di dalam kelas, semua anak memegang peran, guru bertugas memberi aba-aba. Anak biasanya amat puas setelah sesuatu berhasil dikerjakan bersama-sama.
e.      Kunjungan, anak sangat senang melihat langsung berbagai kenyataan yang ada di masyarakat melalui kunjungan. Kegiatan kunjungan memberi gambaran bagi anak akan dunia kerja, dunia orang dewasa sehingga mendorong anak untuk mengembangkan cita-cita. Banyak orang menjadi pilot karena diajak orangtuanya melihat pameran dirgantara, mengunjungi museum pesawat terbang, atau karena diajak naik pesawat terbang. Berbagai kegiatan kunjungan seperti ke Museum Perjuangan, Museum Dirgantara, Perpustakaan, Kepolisian, Dinas Pemadam kebakaran memberi inspirasi anak untuk mengembangkan cita-citanya (learning to be), misalnya untuk menjadi Polisi, TNI, Pemadam Kebakaran, Pilot, dan sebagainya. Kunjungan merupakan hal yang menyenangkan bagi anak. Museum dirgantara merupakan salah satu tempat yang disukai anak. Anak dapat naik pesawat, menggambar pesawat, dan mendengarkan cerita tentang pilot. Siapa tahu akan banyak anak yang bercita-cita jadi pilot.
f.        Permainan, permainan yang menarik dan tidak banyak aturan pada umumnya disukai anak-anak. Guru dapat menggunakan permainan untuk membelajarkan anak. Caranya, guru mengajarkan permainan tersebut kepada anak. Setelah anak mampu memainkannya, guru menambahkan muatan edukatif pada permainan tersebut, sehingga secara tidak langsung anak belajar. Berbagai jenis permainan, seperti Gobag so dor (go back to door), Suda-manda, Petak-umpet, dan bermain peran amat potensial untuk membelajarkan anak. Membelajarkan anak menggunakan esensi bermain dikenal dengan bermain sambil belajar.
g.      Bercerita, bercerita merupakan salah satu metode untuk mendidik anak. Berbagai nilai-nilai moral, pengetahuan, dan sejarah dapat disampaikan dengan baik melalui cerita. Cerita ilmiah maupun fiksi yang disukai anak-anak dapat digunakan untuk menyampaikan pengetahuan. Cerita dengan tokoh yang baik, kharismatik, dan heroik menjadi alat untuk mengembangkan sikap yang baik kepada anak-anak. Sebaliknya tokoh yang jelek, jahat, dan kejam mendidik anak untuk tidak berperilaku seperti itu karena pada umumnya tokoh jahat di akhir cerita akan kalah dan sengsara. Cerita tentang Kepahlawanan, heroisme, dan pemikiran yang cerdas dari para Pahlawan dapat mendidik anak agar kelak memiliki jiwa kepahlawanan. Jadi cerita amat potensial untuk mendidik anak, dan oleh karenanya guru anak usia dini sebaiknya pandai bercerita.
Hal-hal yang harus diperhatikan oleh para guru  ketika mengembangkan program  secara umum, diantaranya:
a.      Sebelum memulai pengembangan program pembelajaran hendaklah guru sudah meyakinkan diri bahwa dia sudah memahami perkembangan dan karakteristik anak secara memadai
b.      Sebelum memulai pengembangan program pembelajaran hendaklah guru sudah meyakinkan diri bahwa dia sudah memahami ruang lingkup program , baik dari dimensi isi bahan kajian maupun dari dimensi pengembangan kemampuan anak.
c.       Jika rambu-rambu 1 dan atau 2, tidak terpenuhi hendaklah dalam pengembangan program pembelajaran  anda melakukannya secara kelompok (teamwork). Bahkan jika diperlukan dan memungkinkan tim anda mengundang ahli khusus atau konsultan, sehingga anda dan tim dapat bekerja lebih optimal.
d.      Bentuk dan wujud program  yang dapat dihasilkan oleh anda dan atau tim, dapat berupa program satu tahun, semester, catur wulan, bulan, minggu atau hari atau juga insidental. Jadi dapat disesuaikan dengan kebutuhan lembaga dan kepentingan program lain secara keseluruhan
e.      Sebaiknya diinventarisir seluruh yang dapat memberikan kontribusi (sumbangan) terhadap pengembangan pembelajaran  di tempat anda, sehingga program  mendapatkan dukungan semua fihak (total environment).
f.        Kemaslah isi program yang memperhatikan prinsip-prinsip keseimbangan, keluwesan, kesinambungan, kebermaknaan dan fungsionalitas. Sehingga program yang dihasilkan lebih adaptif terhadap berbagai prubahan kondisi lingkungan belajar, apalagi beberapa karakteristik anak usia dini menunjukkan sifat yang amat situasional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar