Halaman

Sabtu, 24 September 2011

STRUKTUR DAN FUNGSI OTOT RANGKA

Mengerti akan fisiologi dan sistem gerak otot, struktur, dan fungsi otot rangka merupakan dasar untuk mengrti lebih lanjut tentang tubuh dapat menyesuaikan terhadap latihan fisik.
            Otot-otot tubuh merupakan alat energi yang tersimpan secara kimiawi diubah menjadi pekerjaan mekanik.dalam hubungan ini jumlah pekerjaan mekanikyang dilakukan menentukan berapa jumlah energi yang harus diubah secara kimiawi. Dalam suatu sistem tertutup seperti otot yang berkontraksi, perubahan-perubahan kimiawi di satu pihak dan pekerjaan serta panas yang dihasilkan pihak lain seimbang.
Ø  Beberapa sifat jaringan kontratil yang terdapat dalam tubuh:
1.      Mereka dipengaruhi oleh stimulus yang sama
2.      Mereka menimbulkan potensi aksi setelah distimulus
3.      Mereka memiliki kemampuan untuk berkontraksi
4.      Kekuatan kontraksi tergantung dari panjang semula
5.      Mereka mempunyai kemampuan untuk mempertahankantonua otot
6.      Mereka akan mengecil apabila kurang aktif
7.      Mereka akan menebal sebagai akibat dari pekerjaan yang ditingkatkan

Ø  Latihan olahraga sangat penting untuk otot-otot rangka dengan alasan sebagai berikut:
1.      Tanpa kontraksi otot tentu saja tidak akan terjadi suatu gerakan
2.      Suatu gerakan dapat berlangsung secara kontinyu dalam wantu tertentu
3.      Karena otot-otot rangka mengkonsumsi sebagian besar oksigen.

Otot-otot rangka atau otot yang dikendalikan oleh kehendak kita, dinamakan juga otot  bergaris, oleh karena imereka terdiri dari serabut-serabut panjang yang menyerupai benang. Kesatuan – kesatuan jaringan otot yang terkecil adalah serabut-serabut otot (muscle fiber) merupakan sebuah sel yang panjangdan mengandung banyak inti. Di dalam tubuh manusia, diperkirakan terdapat 270 juta serabut-serabut otot bergaris (Gary A. Thibodeua). Mereka mendapat penyarafan dair syaraf-syaraf kranial atau spiral, dan dikontrol secara sadar. Fungsi utamanya ialah untuk gerakan-gerakan tubuh dan untuk mempertahankan sikap tubuh.
Suatu otot mempunyai parenchima yang terdiri dari serabut-serabut otot dan satu stroma (jaringan dasar) jaringan ikat. Tiap-tiap serabut dikelilingi oleh satu jaring halus yang terdiri dari serabut-serabut jaringan ikat retikuler dan beberapa serabut kolagen dan elastik yang dikenal endomsium yang memisahkan tiap-tiap sel. Seluruh otot akhirnya dibungkus oleh lapisan jaringan yang disebut epimysium. Dalam ketiga jenis pembungkus ini berjalan pembuluh-pembuluh darah dan limfia serta serabut saraf. Dibawah endomisyum, mengelilingi setiap serabut otot, tipis dan elastis serta membungkus kandungan seluler serabut otot yang dinamakan sarcolema, dan subtansi yang menyerupai gelatin dinamakan sarcoplasma atau protoplasma yang mengandung protein kontraktil dan struktur lainya seperti: mithocondria, enzim, lemak, partikel, nuklei dan bermacam-macam organel seluler khusus.
Bagian tengah otot yang kontratil disebut venter sedangkan bagiab ujung yang menhubungkan venter dengan sebuah tulang atau kulit disebut tendon. Disamping tendon terdapat pula membran fibrous putih mengkilat yang banyak menyerupai tendon pipih yang dinamakan aponeurosis. Yang terdiri dari satu susunan padat berkas-berkas kolagen yang tersusun sejajar yang hanya mempunyai sedikit sekali pembuluh darah. Penhububung otot dengan tulang atau kulit adalah origo dan insertio. Origo tidak ikut bergerak pada waktu ototnya berkontraksi, sehingga dinamakan juga punctum fixum. Insertio adalah bagian otot rangka yang ototnya melekat dengan perantaraan tendon, yang bergerak bilamana ototnya berkontraksi, dan disebut juga punctum mobile.
v  Komposisi Bahan Kimia
     Otot rangka terdiri dari 75% air, 20% protein, dan sisanya yang 5% adalah
garam inorganik, dan zat-zat kain termasuk fosfat berenergi tinggi, urea, asam laktat, mineral-mineral seperti kalsium, magnesium, dan pospor, bermacam-macam enzim dan pigmen, ion-ion sodium, potassidium, khlorida,asam amino, lemak dan karbohidrat.
            Sebagian besar kandungan protein otot terdiri filamen miosin, filamen aktin, dan tropomision dengan perbandingan antara ketiga protein tersebut adalah 52 : 23 : 15. Juga sekitar 700 miligram mioglobin pada setiap gram jaringan otot.
v  Suplai Darah
             Selama melakukan latihan berat terjadinya peningkatan konsumsi oksigen pada otot sebanyak 70 kali lipat, jika dibandingkan dengan waktu istirahat dan otot memerlukan darah sebanyak 100 kali lipat jika dibandingkan dengan waktu istirahat. Jadi sekitar 11ml per 100 gr, otot per menit atau jumlah keseluruhan menjadi 3400 ml.
            Apabila otot berkontraksi sampai 60% dari kapasitas maksimalnya, maka aliran darah kr otot terhenti, karena tingginya tekanan intramuskuler. Faktor yang menyebabkan meningkatnya kapasitas latihan adalah karena meningkatnya jumlah kapiler pada otot yang terlatih.
v  Perbandingan Ukuran Struktur Otot
     Diameter pada serabut otot yang utuh besarnya adalah 10 sampai 100 mikron  dan panjangnya bervariasi sesuai dengan panjangnya. Setiap miofibril yang dipisahkan oleh sitoplasma dan tersusun paralel sepanjang sumbu sel mempunyai ukuran diameter berkisar antara 0.5- 2 mikron (1 mikro=1/1000 mm) dan terbagi beberapa benang-benang protein yang disebut miofilamen. Setiap miofilamen terdiri dari filamen tipis dan filamen tebal. Filamin miosin mempunyai garis tengah kira-kira 150 angstrom  dan panjangnya 1.5 yang dibatasi oleh 6 buah filamen aktin.
     Filamen aktin memiliki 3 molekul protein utama, yaitu : 1) aktin, 2) troponin, 3) tropomiosin dengan perbandingan 7 : 1 :1. Tropinin merupakan suatu rangkaian dari tiga macam tropinin, yaitu inhibitory tropinin, calciul binding tropinin, dan tropomyosin.
v  Mekanisme Kontraksi Otot “ Teori  Sliding-Filamen
            Secara mekanis-fisiologis, teori sliding filamen dapat dibagi menjadi 5 fase yaitu :
1.      Dalam keadaan istirahat
2.      rangkaian eksitasi
3.      waktu kontraksi
4.      pengisian muatan
5.      relaksasi
v  Tipe Serabut Otot
            Beberapa tahun yang lalu, para ahli anatomi dan ahli histologi mengklasifikasikan otot menjadi dua macam yaitu otot merah dan putih sesuai dengan warna yang dominan dalam serabut otot. Namun belakangan ini, dengan menggunakan alat-alat moderen di bidang histokimia, pengujian unsur-unsur pokok kimia pada seluler memungkinkan penyediaan alat yang berhubungan dengan aktivitas fungsional serabut otot menurur bentuknya.
            Selanjutnya, Herbert A. Devries (1986) mengatakan, bahwa pengklasifikasian jenis serabut otot setidak-tidaknya berdasarkan melalui 4 cara pendekatan yang berbeda :
1.      penglihatan secara anatomis : merah dan putih
2.      fungsi otot : cepat dan lambat atau cepat lelah dan tahap terhadap kelelahan
3.      kandungan biokimia ; tinngi atau rendahnya kapasitas aerobik, dan
4.      sifat-sifat secara histokimia ; jenis atau sifat enzim yang terkandung di dalamnya.
Gollinick, P.D dkk (1972) mengatakan, bahwa sebutan dan pembagian jenis serabut otot bermacam-macam. Misalnya tipe otot untuk atlet dayatahan disebut tipe aerobik, tipe I, merah, tonik, slow-twitch  (ST), atau slow-oxidative (SO), sedangkan tipe otot untuk atlet tang mengutamakan kecepatan dan kekuatan disebut tipe anaerobik, tipe II, putih, fasik, fast-twitch (FT), atau fast-glycolytic.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar