Halaman

Minggu, 25 September 2011

Definisi Teknologi Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran menurut ahli


1.      Definisi Teknologi Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran menurut ahli:
·         Definisi Teknologi Pendidikan.
a.       Teknologi pendidikan adalah studi sarana pendidikan (mean) secara sistematik sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai (Mac Kenzie dan Eraut, 1971).
b.      Teknologi pendidikan adalah bidang kegiatan fasilitas belajar manusia secara sistematik melalui identifikasi, pengembangan, organisasi, dan pemanfaatan keseluruhan sumber belajar, serta pengelolaan proses tersebut (Association for Educational Communications and Technology, 1972).
c.       Teknologi pendidikan adalah proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia (Association for Educational Communications and Technology, 1977).
·         Definisi Teknologi Pembelajaran.
a.       Teknologi Pembelajaran adalah cara sistematis tentang perencanaan (designing), pelaksanaan dan penilaian dari keseluruhan proses belajar-mengajar untuk mencapai tujuan khusus pembelajaran yang mendasarkan pada penelitian proses belajar manusia dan komunikasi serta mendayagunakan baik sumber belajar manusia maupun non-manusia, agar terjadi pembelajaran yang lebih efektiv (Komisi Teknologi Pembelajaran, 1970).
b.      Teknologi Pembelajaran adalah pengembangan (penelitian, disain, produksi, evaluasi, penunjang, dan pelengkap, pemanfaatan) dari komponen sistem pembelajaran (pesan, orang, bahan media, peralatan, teknik, latar/setting) dan pengelolaan pengembangan (organisasi, personal) dalam proses secara sistematik dengan tujuan untuk memecahkan masalah pendidikan (Kenneth Silber, 1970).
c.        “instructional technology is the theory and practice of design, development, utilization, management and evaluation of processes and resources for learning” (Barbara B.Seels, 1994).

Teori Tentang Kepribadian Seorang Atlet


A.              Kepribadian atlet
Ø Pengertian kepribadian atlet
Ada beberapa definisi mengenai kepribadian, di antaranya:
  1. Pengertian kepribadian total dari karakteristik seseorang yang membuatnya unik (Hollander, 1967)
  2.  kepribadian suatu bentuk keunikan seseorang (Guilford, 1959)
  3. Kepribadian adalah susunan karakter seseorang yang kurang lebih stabil dan bertahan dan behubungan dengan temperamen, intelektual dan fisik yang menuntut penyesuaian yang unik terhadap lingkungan (Eysenck, 1960)
  4. Kepribadian adalah organisasi yang dinamis di dalam system psikofisik seseorang yang menuntut kesesuaian terhdap lingkungannya (allport, 1937)
  5. Kepribadian mengandung arti, seperangkat karakter dan kecenderungan yang stabil yang menentukan keumuman dan perbedaannya dalam perilaku psikologis (pikiran, perasaan dan tindakan) manusia yang memiliki kontinuitas dalam waktu yang barangkali mudah dimengerti dalam konteks tekanan sosial dan biologis yang spontan dalam keadaan mandiri (Maddi, 1968)
Sebagaimana telah Kluckhohn dan Murray (1949) nyatakan bahwa setiap orang seperti semua orang lain, atau tidak seperti lainnya. Pernyataan ini maksudnya merefleksikan pemikiran terhadap penekanan adanya keunikan dan keumuman. kompleksitas keperibadian juga diilustrasikan dengan penekanan adanya stabilitas pada perubahan dan penyesuaian fisik dan psikologi. Perbedaan definisi ini membedakan dan menjadi keragaman keperibadian teori berpikir untuk menjelaskannya.

B.                   Teori – teori tentang kepribadian atlet
Teori Psikodinamik. Teori ini ada di dalam lingkungan klinik: para peneliti terdahulu menjadi ahli fisik dengan fokus pada perilaku yang tidak normal atau menyimpang. Meskipun Sigmund Freud telah mengembangkan psikoanlisis dan sangat berdekatan dengan pendekatan psikodinamik dalam keperibadian, namun ada juga tokoh lain yang juga turut andil di antaranya Carl Jung, Alfred Adler, Erich Fromm dan Eric Ericson. Ajaran utama dari Freud adalah munculnya teori yang terdiri dari ed, ego dan superego. Id menunjukkan naluri ketidaksadaran dan menampilkan dua konflik yang abadi antara dua dimensi yaitu hasrat hidup dan dorongan seksual. Ego menunjukkan adanya aspek kesadaran, logika dan orientasi real dari manusia. Super ego merupakan kesadaran murni dan berkaitan dengan norma, susila, nilai, sikap dan moral. Dari sini Freud sebenarnya berbicara tentang konflik kepribadian utamanya adalah konflik antara seksualitas tanpa sadar dengan insting agresif. Fromm dan Ericson mengajukan interpretasi interpersonal tentang perilaku yang menyatakan bahwa kekuatan instingtual berasal dari id, ego dan super ego. Modifikasi pendekatan psikodinamik memerlukan observasi informal, intuisi klinis, dan kepercayaan pada dinamisasi intrafisik. Demikian menurut Mischel (1973). Berikut ini bagan yang mengaitkan teori konflik kperibadian dan teori psikodinamik:

Teori Fenomenologis. Teori ini dikembangkan oleh Maslow (1943) dengan memunculkan konsep yang lebih menakankan pada holistic daripada atomistic, fungsional daripada taksonomi, dinamis daripada statis, dinamis daripada kasual, purposif dari simple-mekanis.
Pendekatan teori Maslow memunculkan lima tingkatan kebutuhan yang ada pada diri manusia, yaitu: kebutuhan psikologis (kebutuhan dasar seperti lapar, haus, tidur dan seks, keamanan (baik emosi maupun fisik), cinta (kasih sayang dan afiliasi), penghargaan (prestasi, kekuasaan dan status), dan aktualisasi diri (refleksi dari kepuasan diri). Bagan lima kebutuhan ini digambarkan oleh Maslow dengan bagan, sebagai berikut:
Secara fenomenologis, teori kepribadian itu beragam. keberagaman ini disesuaikan pada penekanan konsep perubahan diri, pertumbuhan dan kematangan yang diarahkan pada pemenuhan kebutuhan diri. Rogers (1964) mengatakan bahwa perubahan itu didasarkan dengan orientasi nilai dari anak-anak menuju dewasa dan dari dewasa menuju kematangan psikologis.
Teori Konstitusional (Jenis Tubuh). Teori konstitusional atau teori jenis tubuh selalu dikaitkan dengan Stanley Kretschmer dan William Sheldon. Dengan teori ini menunjukan bahwa setiap orang mempunyai fisik-fisik khusus atau jenis-jenis tubuh, yang secara genetic menentukan factor yang memberikan kecenderungan pada konsistensi perilaku.
Sheldon memberikan skema yang sudah sangat popular. Dalam skema ini ada tiga dimensi yang struktur tubuhnya dianggap aneh, yaitu: mesomorphy (berotot), endomorphy (bulat, gemuk), dan ectomorphy (lurus, kurus). Setiap dimensi ini dihubungkan dengan jenis kepribadian tertentu atau temperamen. Selengkapnya lihatlah bagan berikut:
Teori Kejanggalan. Pendekatan teoritis yang memiliki pengaruh terkuat dalam penelitian keperibadian pada psikologi adalah pandangan tentang pembawaan yang janggal.
Pembawaan kepribadian sendiri telah disampaikan dengan berbagai cara. Contohnya Allport (1964) memberikan masukan mengenai struktur neurofisik yang memiliki kapasitas untuk memberikan stimuli fungsional yang seimbang dan memberikan tanda-tanda khusus yang berkaitan dengan bentuk-bentuk perilaku yang ekspresif.
Dalam pendekatan Cettel, keperibadian ditampilkan sebagai pembanding di antara struktur sifat-sifat pembawaan yang hirarkis. Secara khusus, melalui analisis factor, terdapat 171 pembawaan asli yang dapat diidentifikasi. Pembawaan-pembawaan asli ini secara total dianggap sebagai penyebab keunikan perilaku siswa-siswa. Dengan demikian setipa siswa memiliki pembawaan asli yang berbeda, karena masing-masing siswa pada dasarnya memiliki keunikan yang tidak sama dengan yang lainnya. Dari 171 pembawaan asli ini dapat dibagi menjadi 16 kategori, factor-faktor atau klusternya disebut dengan sifat-sifat pembawaan yang mengemuka. Berikut table yang diberikan Cattel:

CIRI - CIRI ABK (ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS)


1.    Ciri-ciri ABK
A.    Tunanetra
Ciri-ciri:
·           Tidak dapat melihat gerakan tangan pada jarak kurang dari satu meter.
·           Ketajaman penglihatan 20/200 kaki yaitu ketajaman yang mampu melihat suatu benda pada jarak 20 kaki.
·           Bidang penglihatannya tidak lebih luas dari 20º.
·           Kesulitan dalam mempersepsi objek.
·           Ciri-ciri dari segi fisik antara lain: mata juling, sering berkedip, menyipitkan mata, kelopak mata merah, gerakan mata tak beraturan dan cepat, mata selalu berair dan sebagainya.
·           Low Vision, Ciri-ciri antara lain :
1) Menulis dan membaca dengan jarak yang sangat dekat
2) Hanya dapat membaca huruf yang berukuran besar
3) Memicingkan mata atau mengerutkan kening terutama di cahaya terang atau saat mencoba melihat sesuatu.
4) Gangguan masalah orientasi dan mobilitas.
5) Perlu tongkat putih untuk berjalan.
6) Umumnya memerlukan sarana baca dengan huruf Braille, radio dan pustaka kaset.
·           Hampir buta, memiliki ciri-ciri:
1) Penglihatan menghitung jari kurang empat kaki
2) Penglihatan tidak bermanfaat bagi orientasi mobilitas
3) Harus memakai alat non visual

·           Buta total, memiliki ciri-ciri:
1) Tidak mengenal adanya rangsangan sinar
2) Seluruhnya tergantung pada alat indera selain mata
B.     Tunarungu
·           Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 20-30 dB (slight losses), memiliki ciri-ciri:
1)      Kemampuan mendengan masih baik karena berada digaris batas antara pendengaran normal dan kekurangan pendengaran taraf ringan.
2)      Tidak mengalami kesulitan memahami pembicaraan dan dapat mengikuti sekolah biasa dengan syarat tempat duduknya perlu diperhatikan, terutama harus dekat guru.
3)      Dapat belajar bicara secara efektif dengan melalui kemampuan pendengarannya.
4)      Perlu diperhatikan kekayaan perbendaharaan bahasa supaya perkembangan bicara dan bahasanya tidak terhambat.
5)      Yang bersangkutan menggunakan alat bantu dengan untuk meningkatkan ketajaman daya pendengarannya.
·           Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 30-40 dB (mild losses), memiliki ciri-ciri:
1)      Dapat mengerti percakapan biasa pada jarak sangat dekat.
2)      Tidak mengalami kesulitan untuk mengekspresikan isi hatinya.
3)      Tidak dapat menangkap suatu percakapan yang lemah.
4)      Kesulitan menangkap isi pembicaraan dari lawan bicaranya, jika posisi tidak searah dengan pandangannya (berhadapan).
·           Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 40-60 dB (moderate losses), memiliki ciri-ciri:
1)      Dapat mengerti percakapan keras pada jarak dekat, kira-kira satu meter, sebab dia kesulitan menangkap percakapan pada jarak normal.
2)      Sering terjadi mis-understanding terhadap lawan bicaranya jika diajak bicara.
3)      kesulitan menggunakan bahasa dengan benar dalam percakapan.
4)      Penyandang tunarungu kelompok ini mengalami kelainan bicara, terutama pada huruf konsonan.
5)      Pembendaharaan kosa katanya sangat terbatas.
·           Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 60-75 dB (severe losses), memiliki ciri-ciri:
1)      Kesulitan membedakan suara.
2)      Tidak memiliki kesadaran bahwa benda-benda yang ada disekitarnya memiliki getaran suara.
·           Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 75 dB keatas (profoundly losses), memiliki ciri-ciri:
1)      Pada kelompok ini hanya dapat mendengar suara keras sekali pada jarak kira-kira satu inci (± 2,54 cm) atau sama sekali tidak mendengar.
2)      Biasanya tidak menyadari bunyi keras, mungkin juga ada reaksi jika dekat telinga.
3)      Meskipun mengunakan alat pengeras suara, tetapi tetap tidak dapat memahami atau menangkap suara.
C.     Tunagrahita
Ciri-cirinya:
·           Lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru.
·           Kesulitan dalam mengeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru.
·           Kemampuan bicaranya sangat kurang bagi anak tugarahita berat.
·           Cacat fisik dan perkembangan gerak.
·           Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri..
·           Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim.
·           Tingkah laku kurang wajar dan terus menerus.
·           Memiliki kelainan yg meliputi fungsi inelektual umum di bawah rata-rata (Sub-avarage), yaitu IQ 84 kebawah sesuai tes.
·           Kekurangan dalam perilaku adatif.
·           Kemampuan sosialisasinya terbatas.
·           Mengalami kesulitan dalam konsentrasi.
·           Cenderung mamiliki kemampuan berfikir konkret dan sukar berfikir.
·           Tidak mampu menyimpan intruksi yang sulit.
·           Kurang mampu menganalisis dan menilai kejadian yang dihadapi.
D.    Tunadaksa
·           Anak tunadaksa ortopedi, memiliki ciri-ciri:
1)      Memiliki kelainan atau kecacatan tertentu pada bagian tulang, otot tubuh, ataupun daerah persendian.
2)      Kelainan dibawa sejak lahir maupun karena penyakit atau kecelakaan sehingga mengakibatkan terganggunya fungsi tubuh secara normal.
3)      Kelainan tubuh sifatnya menetap dan tidak akan berubah dalam waktu 6 bulan.
·           Cerebral palsy
1)      Ringan, dapat berjalan tanpa alat bantu, mampu bicara dan dapat menolong dirinya sendiri
2)      Sedang, memerlukan bantuan untuk brjalan, latihan berbicara, dan mengurus diri sendiri
3)      Berat, memerlukan perawatan tetap dalam ambulansi, berbicara, dan menolong diri sendiri.
E.   Autis
Memiliki ciri-ciri:
·           Tidak mampu dalam bersosialisasi dan berkomunikasi.
·           Mempunyai daya imajinasi yang tinggi dalam bermain dan mempunyai perilaku, minat dan aktifitas yang unik (aneh).
·           Menunjukkan gejala-gejala adanya gangguan komunikasi, interaksi social, gangguan sensoris, pola bermain, prilaku dan emosi.
·           Berusaha menarik diri dari kontak sosial, dan cenderung menyendiri dari keramaian sosial.
·           Suka ekolalia (membeo)
·           Marah bila berubah dari rutinitas
·           Kadang2 suka menyakiti diri sendiri
·           Temper tantrum.
·           Suka mengeluarkan suara yang kurang lazim (nada tinggi atau rendah).
F.      Tunaganda
Memiliki ciri-ciri:
·           Kurang komunikasi atau sama sekali tidak dapat berkomunikasi.
·           Perkembangan motorik dan fisiknya terlambat.
·           Seringkali menunjukkan perilaku yang aneh dan tidak bertujuan.
·           Kurang dalam keterampilan menolong diri sendiri.
·           Jarang berperilaku dan berinteraksi yang sifatnya konstruktif.
·           Kecenderungan lupa akan keterampilan keterampilan yang sudah dikuasai.
·           Memiliki masalah dalam mengeneralisasikan keterampilan keterampialan dari suatu situasi ke situasi lainnya.